| Tuesday, June 07, 2005 |
|
Ayah... Perjalanan ini begitu melelahkan Meniti hari di mana dunia telah berubah Anak - anak telah kehilangan halaman tuk bermain Perempuan berbangga dengan gincu Aku berjalan seperti di atas selembar sayap lalat, ayah. Menjijikkan sekali... Manusia tertipu... Tergoda seolah SyurgaNya Hanya igauan
Ayah... Terima kasih telah menitipkan aku Pada Dia Yang Maha Lembut Dia selalu hadir ayah Menghiburku dengan sisa - sisa do'amu Memeluk aku dengan mimpi Tentang kau yang datang Terus mengaji
|
posted by norabima @ 10:06 PM   |
|
|
|
| YA Robbana...Aku Mencintanya... |
Syurga dari mana? Emang siapa yang menjamin syurga tuh ada...! Emang bisa dipesan atau warisan nenek, kakek dan pendahulu kita?! Kan gak kan?!Sudah deh, jangan ngomong aneh! Pagi pagi uda ceramahin orang dengan kalimah aneh! Kau emang aneh yach?!! (SMS Pagi Buta) (sadarkan apa yang telah kau katakan saudaraku...? Robbana...maafkan dia...ampuni dia...aku menyayanginya... sungguh tak sanggup aku melihatnya dijilati duniaMu, dipukuli nista, dipermainkan syahwat yang telah menawan hatinya... Beri dia hidayahMu ya Robbana...sungguh tak sanggup aku melihatnya telah jauh berubah. Ya Robbana...Kau agung sedang aku hina...Kau Perkasa sedang aku lemah...Kau tinggi sedang aku rendah...Aku hanyalah bagian kecil dari kekayaan yang Kau miliki wahai Raja di atas Raja... Mohon jangan hukum aku begitu...cintaMu telah memenuhi jiwaku...dan bukankah tidak sulit bagiMu membaginya dan membiarkan dia merasakannya...? Merasakan kehadiran dan keberadaanMu ya Robbanaa... Ya Robbana...seandainya aku bisa membeli hidayah itu...dengan separoh jiwaku pun Insya Allah hamba siap menggadaikan separoh jiwaku untuk itu ...asalkan cahayaMu mau menembus masuki ruangnya sehingga tidak pantaslah dia angkuh dan berkata begitu... Ya Robbanaa...Tak duga begitu sakit jiwaku digores luka...luka sedih menyadarinya telah jauh berubah...ampuni dia ya Robbana...jangan datang maut sebelum dia cahayaMu menembus...dan mohon jangan biarkan dia merengkuh di bibir maut sebelum aku nyata membawanya ke terminalMu. Ya Robbana...Hamba sadar...bahwa tidaklah ibadah hamba memberi arti apa - apa bagiMu dan dosa nista kami tidaklah mampu mengurangi sedikitpun kemuliaanMu. Tidak ada untung bagiMu dengan segala ibadah kami dan tidaklah Engkau tidak akan rugi dengan kedurhakaan kami hamba - hambaMu...Malaikat suci tak henti memuliakan Engkau...dan kami...Oh betapa memalukan...Betapa Engkau ya Robbana...suci dan tak layak diragukan dan diduakan... Ya Robbana...Kalau dia meragukan Engkau...sungguh bukan hendak dia menentangMu...tapi Syetan telah memenangkan atas dirinya dan hamba mohon ya Robbana...kembalikan dia pada fitrah...kembalikan dia...aku menyayanginya! Aku mencintainya Robby! Ya Robbana...kutahu hidayahMu mahal dan tak terbeli...tapi, mohon dengarkan pinta hamba ya Robbana...Jangan kau jadikan sesalnya di akhir. Janganlah kelak dia menggigit jari...janganlah kelak dia ternggelam dalam sesal tak berakhir. Hadirkanlah cahaya hidayahMu ya Robbana...aku tak kuasa melihatnya begitu...tolonglah dia ya Robbana...jangan biarkan syetan menjebaknya begitu... Ya Robbana...Aku mencintainya...dia saudaraku...jangan buat dia terjerembab...jatuh dalam jurang nista...aku menyayanginya ya Robbana...siksa jiwa melihatnya begitu...
Catatan: bukti aku menyayangimu, Ry. Maaf..., kau tak harus tersinggung...dan SMSmu itu masih aku SAVE berharap suatu saat kau sendiri yang menghapusnya...! Maafkan aku... Jangan siksa aku begitu, meski kau tak bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu saudaraku...(mohon jangan pernah membalasnya begitu...sebab itu memukuli jiwaku...meski bagimu itu nyata dari dalam hatimu...). Berbeda memang indah...tapi perbedaan yang kau unjukkan sungguh menyiksa!!! Aku tak rela kau berbeda sejauh itu...!
|
posted by norabima @ 8:24 PM   |
|
|
| Sunday, June 05, 2005 |
|
PIKIRAN TANPA KATA - KATA Pikiran tanpa kata-kata mungkin karena tak ada akhir bagi kata-kata padahal hanya sedikit kata-kata yang kuperlukan karena paragrapMu, aku akan larut dan lenyapkata-kata kan kusampaikan ....bagi mereka yang perlu kata2 bagi mereka yang memahami pikiran tanpa kata-kata apa gunanya aku bicara... Tak kubutuh bicara ... Tak kubutuh keindahan kata-kata karena ia hanyalah sesuatu yang dipinjam untukku... disinilah jiwamu bersemayam dalam pikiran tanpa kata-kata(lewat jalan rahasia yang sama kepedihan-kepedihan itu muncul meninggalkan diri kita hampa tanpa kata-kata)
pikiran tanpa kata2 menyeretku kemari apa yang begitu indah tanpa kata-kata? apakah bayangan kenyataan? bukan..bukan kata2 yang menarikku ikatan jiwa yang menarikkuunsur ruhani yang menggerakkan kupikiranku akanmu yang membawaku meski begitu banyak tipuan rahasia berharap menemukan kebaikan namun hanya menemui kekecewaan ahh..mungkin inilah saat rahasia2 dicobakan dan sahabatku berlalu tanpa kusadari.... |
posted by norabima @ 2:50 AM   |
|
|
| Saturday, May 14, 2005 |
|
Orang Malang yang Malang
A. Mustofa Bisri
APA yang tidak bisa terjadi di negeri ini? Presiden ditipu raja gadungan atau dukun, bisa. Melihat gerhana matahari diharamkan, bisa. Mengimpor sampah, bisa. Mati tertimbun sampah, bisa. Mengekspor TKI, bisa. Ibu membunuh anak, bisa. Ayah atau guru mencabuli anak atau muridnya, bisa. Ustad jadi polisi, bisa. Preman menjadi hakim atau ustad, bisa. Polisi mendekengi bandar judi, bisa.
Copet beberapa rupiah dibakar hidup-hidup, bisa. Koruptor miliaran rupiah bebas merdeka, bisa. Majelis ulama berjualan label dan ngurusi logo kaset, bisa. Pelawak jadi dai atau anggota DPR, bisa. Dai atau anggota DPR jadi pelawak, bisa. Wakil rakyat yang terhormat mewakili tawuran, bisa. Musyawarah untuk perpecahan, bisa. Politisi minta bantuan Tuhan untuk memenangkan partainya dalam pemilu, bisa.
Jamaah yang hendak berpuasa Ramadan, minta bantuan pedagang-pedagang warung agar menutup warungnya di siang hari, bisa. Kiai berkelahi dengan politisi, bisa. Ustad bertengkar dengan pemusik, bisa. Alumni pesantren mendirikan sasana tinju, bisa. Mantan petinju mendirikan pesantren, bisa. Puluhan ribu orang meninggal dalam sekejap, bisa. Apalagi?
Anda bisa memperpanjang daftar hal-hal ganjil, bahkan musykil, yang mungkin dan sudah pernah terjadi di negeri ini. Jadi masih herankah Anda jika ada yang punya odo-odo bersembahyang menggunakan bahasa negeri ini, negeri ganjil ini?
Bangsa negeri ini agaknya memang perlu diruwat (baca: tobat). Banyak orang di negeri ini yang tak tahu diri, lupa diri, dan atau tidak tahu mengukur diri sendiri, umumnya gara-gara kepentingan sendiri yang terlalu tinggi. Ada yang tak punya ijazah sekolah, ingin menjadi pejabat formal. Ada yang hanya bermodalkan ingin dan dukungan kawan- kawan, mencalonkan diri menjadi kepala pemerintahan.
Ada yang belum tamat ibtidaiyah sudah mengustadkan diri. Ada yang punya hafalan satu-dua ayat dan satu-dua hadis, sudah memubaligkan diri. Ada yang mengerti sedikit ilmu klenik, sudah mewalikan diri. Dan sebagainya, dan seterusnya. Boleh jadi ini merupakan sumber, paling tidak salah satu sumber kekacauan dalam pergaulan hidup kita bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Supaya tidak ngombro-ngombro, berlarut-larut, dan bertele-tele, kita ambil saja beberapa contoh, yaitu beberapa kasus yang lagi hangat dibicarakan. Pertama, kericuhan hampir di setiap kongres atau muktamar. Di sini jelas sekali kepentingan -masing-masing yang bertikai- terlalu tinggi dibanding penguasaan mereka terhadap makna demokrasi, politik, dan tujuan mulia berdemokrasi dan berpolitik. Kepentingan sesaat membuat mereka lupa akan kepentingan yang lebih besar dan kekal.
Contoh lain yang sepele dan dibesar-besarkan adalah soal logo grup musik Dewa yang melibatkan beberapa ustad, bahkan majelis ulama. Di sini tampak sekali masing-masing terlalu tinggi menghargai diri mereka. Masing-masing merasa sudah -dan mungkin paling- dekat dengan Allah karena merasa memiliki kelebihan: seni dan ilmu fikih.
Yang paling lucu mungkin orang Malang yang malang itu. Orang 'nasionalis' yang mengimami sembahyang dengan diterjemahkan ke dalam bahasa nasional. Imam ini terlalu tinggi mengukur dirinya, gara- gara dipanggil ustad dan ada yang mau menjadi makmumnya. Reaksi terhadap perilakunya ini pun melebihi ukuran. Dengan semangat membela agama, orang-orang pun 'menyerbu' tempat tinggalnya. Padahal, dia - paling tidak menurut saya- seperti banyak orang yang lain, hanyalah orang awam yang kemaruk, terlalu bersemangat, untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya.
Seandainya dia -dan banyak pemeluk agama lainnya di negeri ini- mau agak berendah diri, terus belajar tentang Allah dan aturan-aturannya, tentu ceritanya akan lain. Ada dhawuh: "Seseorang akan tetap pintar selama masih mau terus belajar. Sekali orang berhenti belajar karena merasa sudah pintar, mulailah dia bodoh."
Kata Rasulullah: Maa halaka umru-un 'arafa qadarahu, tidak akan celaka orang yang tahu ukuran dirinya. Dan ternyata, orang yang tidak tahu mengukur diri -apalagi yang tak tahu diri atau lupa diri- tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tapi lebih dari itu dapat merepotkan orang lain.
Kalau orang lain itu banyak dan kerepotan itu mengganggu pergaulan hidup bermasyarakat, lalu bagaimana mengatasinya?
Setiap masyarakat - kecuali mungkin masyarakat hutan- tentu mempunyai aturan-aturan yang disepakati dan dipercayai untuk mengatur ketertiban hidup dan pergaulan hidup mereka. Dalam kaitan berbangsa dan bernegara, ada undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya. Dalam kaitan berorganisasi ada AD/ART. Dalam hubungan antara hamba dengan Tuhan, ada kitab suci dan sunah nabi.
Nah, tinggal masyarakat itu sendiri; mau tidak mengikuti, mematuhi, dan menegakkan aturan-aturan tersebut dan tidak mendahulukan nafsu maupun kepentingan sendiri?
Jawa Pos, 08 Mei 2005
|
posted by norabima @ 7:33 PM   |
|
|
| Friday, May 13, 2005 |
|
Mata itu kembali bertaut begitu mengerikan. Aku tertampar oleh sinar yang tiba-tiba menjelma suhu panas di sekujur tubuhku. "Kau..." Aku tidak melanjutkan ucapanku. Tatapnya menghujam. Dalam. Entah karena apa, dia tiba - tiba berdiri seperti seonggok luka. Pilu... "Jangan dalam membenci, kebencian hanya akan memberikan harapan - harapan indah tentang cinta." Katanya kembali menampar diri yang terseok dala duka "Aku? Membenc i? Atas alasan apa aku membenci...,?" Kataku berusaha meyakinkan. Bahwa sejujurnya, aku tak pernah tahu soal kebencian. Aku nyaris tak pernah membenci pun keadaan yang serba terlanjur. "Kau kecewa?" Tanyaku lagi. Aku melihat perubahan. Rona wajahmu menjadi pucat. Takut dihadang kekecewaan demi kekecewaan yang telah membuat jarakmu begitu tak sedekat kuas pada kanvasnya. Ahhh...! Terpaksa di tengah kekalutanmu, aku menciptakan jarak yang tak terbayangkan dalam menit - menit itu. Lantas di mana kita sekarang? Tanyamu. Aku tertawa. Menyadari jarak itu tak mampu kubentengi dengan rasionalisme yang sudah tertanam kuat dalam diri. Kenapa? Tanya seseorang yang tiba - tiba membelakangi kita. Aku menunjuk sosok yang kini berdiri di atas hamparan daratan luas. Di sekelilingnya mengalir mata air laksana Zam - Zam di tumit Ismail. Duh. Mengapa masih dirimu yang kulihat di tengah jarak yang telah kuciptakan? Mengapa miris tatapmu ke arahku? Berdosakah aku? Mengapa aku kembali seperti Sinta dalam tikaman rasa bersalah. Bersalah karena Syurga pun enggan menyapa. Lantas tak termaafkah aku? Hingga kosong tatapmu...dan pucat bibirmu berkata; bahwa kita akan menemukan musim kita kembali..., dan entah di mana.... Hening....Di tengah kesenyapa itu... Tidakkah kau rasa bahwa telah berdiri seseorang yang sejak tadi menunggu jarak itu tercipta dan nyata tak kan memberikan kembali harapan - harapan suci tentang sebuah keterpautan. Dan bayangan itu...Nyata berharap mimpiku terbakar. Dan kau tahu...? Aku hanya menggemakan asaku pada denting tanah - tanah yang akan memakamkan riwayat kita. "Wahai, demi Tuhan. Di mana aku? Bukankah ini pertanda kecelakaan?" "Tidak!" Katamu. Kembali aku membangunkan jiwaku yang menit - menit lalu sempat tertidur.panjang. "Seandainya aku bisa berbagi..." Apa? Aku kaget. Penuturanmu mebuatku tak percaya bahwa dalam hidup ini ada orang - orang yang sepertimu terlalu naif memaknai cinta. Ah,kau pikir jika hati di isi oleh banya cinta lantas cinta itu akan terbagi - bagi seperti rumus matematika? Cinta akan selalu bertambah dengan warnanya sendiri. Tidak peduli berapa orang yang kau simpan dalam hatimu. Ibu, adik, kakakmu, sahabatmu, teman atau entah sebanyak apa mereka...., kecintaanmu pada mereka tak akan mengurungai sedikitpun jatah cinta buat seseorang yang setiap musim hendak bersinggah di hatimu. Dia akan lepas melayang dengan sayap-Nya ke mana hendak kau tenggerkan dia. Oh yach, lupa! Rumah cinta itu adalah RUH. Gairahnya adalah nafas yang kau teteskan dengan dzikir dan do'a. Itulah cinta. Tak pantas kita mengecilkan cinta dengan rumus kimia, fisika dan matematika. cinta punya warna dan bentuknya. Dia memang tidak punya mata, tapi cinta selalu bisa melihat dan merasa. "Teruskan! Aku ingin mendengarkan penuturanmu tentang cinta. Setelah itu, terserah. Kau boleh pergi..." "Teruskan...," Kali ini aku tidak lagi melihat mata penuh cemas dan harap. Aku seperti sedang menyuapi seorang bocah dengan kalimat - kalimat Asmaul Husna. "Cinta..." "Cepat, teruskan!" Pintamu memotong kegugupanku "Jika ia sebuah cinta... dia tidak mendengar...namun senantiasa bergetar. jika ia sebuah cinta dia tidak buta namun senantiasa melihat dan merasa. jika dia sebuah cinta...dia tidak menyiksa. namun senantiasa menguji. Jika dia sebuah cinta...dia tidak memaksa. namun senantiasa menghampiri dengan hati. Jika ia sebuah cinta...ia tidak hanya menguji. Namun senantiasa mencoba memenangi. Jika ia sebuah cinta...ia mungkin tidak suci. Namun senantiasa tulus. Jika ia sebuah cinta...ia tidak hadir karena permintaan. Jika ia sebuah cinta...ia tidak berkurang karena dibagi Namun dia terus bertambah dengan warnanya sendiri seperti..." "Cupup!Cukuuuuup!" Kau menghentikan kalimat yang belum sempat kusempurnakan. Kali ini aku bukan menangis oleh suasana cekam yang kau ciptakan, tapi oleh kecengesanmu sebagai lelaki. (Terinspirasi oleh Seseorang Yang Sedang Berjuang Di Pulau Nias)
|
posted by norabima @ 9:28 PM   |
|
|
| Wednesday, May 11, 2005 |
|
Renungan sebuah pernikahan, Antara Harapan dan Kenyataan
EPISODE 1 :Saat Fulanah masih seorang gadis, yang ada di benaknya dan yangkemudian menjadi tekadnya adalah keinginan menjadi isteri shalihatyang taat dan selalu tersenyum manis. Pendeknya, ingin memberikanyang terbaik bagi suaminya kelak sebagai jalan pintas menuju surga.Tekad itu diperolehnya setelah mengikuti berbagai 'tabligh', ceramah,dan seminar keputerian serta membaca sendiri berbagai risalah. Bahkanbanyak pula ayat Al-Qur'an dan Hadits yang berkaitan dengan hal itutelah dihafalnya, seperti "Ar Rijalu qowwamuna alan nisaa'...","Faso-lihatu qonitatu hafizhotu lilghoibi bima hafizhallah..." (QS. An-Nisaayat 34). Juga Hadits :"Ad dunya mata', wa khoiru mata'iha almar'atus sholihat." (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasanadalah isteri sholihat). Atau, hadits "Wanita sholihat adalah yangmenyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh dan menjaga apa-apayang diamanahkan padanya. Begitu pula hadits "Jika seorang isterisholat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan dan menjaga kehormatandirinya serta suaminya dalam keadaan ridha padanya saat ia mati, makaia boleh masuk surga lewat pintu yang mana saja. (HR Ahmad danThabrani). Hadits yang berat dan seram pun dihafalnya, "Jika manusiaboleh menyembah manusia lainnya, maka aku perintahkan isteri menyembahsuaminya." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)Figur isteri yang sholihat, taat, dan setia serta qona'ah seperti Kha-dijah r.a. benar-benar terpatri kuat di benak Fulanah dan jelas inginditirunya. Maka, tatkala Allah SWT telah menakdirkan ia mendapat jodohseorang Muslim yang sholih, 'alim dan berkomitmen penuh pada Islam,Fulanah pun melangkah ke gerbang pernikahan dengan mantap. Begitukhidmat dan khusyu karena kesadaran penuh untuk beribadah danmenjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan hidup berumah tangga .EPISODE 2 Tatkala Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, ber-angan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami denganseorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata. Alangkahbahagianya menjadi seorang suami dan seorang "qowwam" yang "qooiminbi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi" (tegak atas dirinya dan mampumenegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi\'imam yang adil\' yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak-anaknya.Alangkah menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganyalahir dan batin, dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanahAllah SWT yang telah dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT.Ia bertekad untuk mempergauli isterinya dengan ma\'ruf (QS An-Nisa:19)dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW tentang kewajiban-kewajibanseorang suami. "Hanya laki-laki mulialah yang memuliakan wanita.""Yang paling baik di antara kamu, wahai mu\'min, adalah yangpaling baikperlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah (Muhammad SAW) yang palingbaik perlakuannya terhadap isteri-isteriku." "Wanita seperti tulangrusukmanakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan manakala diluruskansecara paksa ia akan patah." (HR. Bukhari dan Muslim)Fulan pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang danlembut pada isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankanbeban pekerjaan isteri seperti membantu menyapu, menisik baju dansekali-sekali turun ke dapur seperti ucapan Rasulullah kepada Bilal :"Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan menolong wanita di dapur."Karena Rasulullah suka bergurau dan bermain-main dengan isteri sepertiberlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR Ahmad), maka ia pun berkeinginanmeniru hal itu serta menyapa isteri dengan panggilan lembut \'Dik\' atau\'Yang\'. EPISODE-EPISODE SELANJUTNYA Fulan dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangan",1]);//-->EPISODE 2Tatkala Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, ber-angan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami denganseorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata. Alangkahbahagianya menjadi seorang suami dan seorang "qowwam" yang "qooiminbi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi" (tegak atas dirinya dan mampumenegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi'imam yang adil' yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak-anaknya.Alangkah menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganyalahir dan batin, dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanahAllah SWT yang telah dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT.Ia bertekad untuk mempergauli isterinya dengan ma'ruf (QS An-Nisa:19)dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW tentang kewajiban-kewajibanseorang suami. "Hanya laki-laki mulialah yang memuliakan wanita.""Yang paling baik di antara kamu, wahai mu'min, adalah yangpaling baikperlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah (Muhammad SAW) yang palingbaik perlakuannya terhadap isteri-isteriku." "Wanita seperti tulangrusukmanakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan manakala diluruskansecara paksa ia akan patah." (HR. Bukhari dan Muslim)Fulan pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang danlembut pada isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankanbeban pekerjaan isteri seperti membantu menyapu, menisik baju dansekali-sekali turun ke dapur seperti ucapan Rasulullah kepada Bilal :"Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan menolong wanita di dapur."Karena Rasulullah suka bergurau dan bermain-main dengan isteri sepertiberlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR Ahmad), maka ia pun berkeinginanmeniru hal itu serta menyapa isteri dengan panggilan lembut 'Dik' atau'Yang'. EPISODE-EPISODE SELANJUTNYAFulan dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangankarena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan Islam.Waktu pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terusmembara, kinbanyak hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat, karakter,pembawaan,selera, dan kegemaran serta perbedaan latar belakang keluarga yangsemula mudahterjembatani oleh kesatuan iman, cita-cita, dan komitmen ternyatalambat launmenjadi bahan-bahan perselisihan. Pertengkaran memang bumbunyaperkawinan,tetapi manakala bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanyamenjaditajam dan tak enak lagi.Ternyata, segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapandankenyataan ada terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui ternyatapendekdan singkat saja. Cukup banyak onak dan duri siap menghadang. Sehabismenegukmadu, ternyata \'brotowali\' yang pahitpun harus diteguk. Berbagaimasalahkehidupan dalam perkawinan harus dihadapi secara realistis olehpasangan mujahiddan mujahidah sekalipun. Allah tak akan begitu saja menurunkanmalaikat-malaikatuntuk menyelesai- kan setiap konflik yang dihadapi. "Innallaha laayughoyyiru mabiqoumi hatta yughoyyiru maa bi anfusihim" (QS Ar-Raad : 6).Ada seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jikamarahatau menegur, terdengar begitu \'nyelekit\'. Ada pula suami yang mengeluhkarenadominasi ibu mertua terlalu besar. Perselisihan dapat timbul karenaperbedaangaya bicara, pola asuh, dan latar belakang keluarganya. Kejengkelanjuga mulaitimbul karena ternyata suami bersikap \'cuek\', tidak mau tahu kerepotanrumahtangga, karena berang- gapan "itu khan memang tugas isteri."Sebaliknya, adasuami yang kesal karena isterinya tidak gesit dan terampil dalam urusanrumahtangga, maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi \'kutu buku\' saja.Fulan pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-"qonaah" yangdiduganya,bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang bersyukur.",1]);//-->yang serasikarena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan Islam.Waktu pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terusmembara, kinbanyak hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat, karakter,pembawaan,selera, dan kegemaran serta perbedaan latar belakang keluarga yangsemula mudahterjembatani oleh kesatuan iman, cita-cita, dan komitmen ternyatalambat launmenjadi bahan-bahan perselisihan. Pertengkaran memang bumbunyaperkawinan,tetapi manakala bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanyamenjaditajam dan tak enak lagi.Ternyata, segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapandankenyataan ada terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui ternyatapendekdan singkat saja. Cukup banyak onak dan duri siap menghadang. Sehabismenegukmadu, ternyata 'brotowali' yang pahitpun harus diteguk. Berbagaimasalahkehidupan dalam perkawinan harus dihadapi secara realistis olehpasangan mujahiddan mujahidah sekalipun. Allah tak akan begitu saja menurunkanmalaikat-malaikatuntuk menyelesai- kan setiap konflik yang dihadapi. "Innallaha laayughoyyiru mabiqoumi hatta yughoyyiru maa bi anfusihim" (QS Ar-Raad : 6).Ada seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jikamarahatau menegur, terdengar begitu 'nyelekit'. Ada pula suami yang mengeluhkarenadominasi ibu mertua terlalu besar. Perselisihan dapat timbul karenaperbedaangaya bicara, pola asuh, dan latar belakang keluarganya. Kejengkelanjuga mulaitimbul karena ternyata suami bersikap 'cuek', tidak mau tahu kerepotanrumahtangga, karena berang- gapan "itu khan memang tugas isteri."Sebaliknya, adasuami yang kesal karena isterinya tidak gesit dan terampil dalam urusanrumahtangga, maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi 'kutu buku' saja.Fulan pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-"qonaah" yangdiduganya,bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang bersyukur.sebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit bahkan cenderung kikir,padahalkebutuhan rumah tangga dan anak-anak terus meningkat.Seorang sahabat Fulan juga kesal karena isterinya sulit menerimakeadaankeluargan. Sebab musababnya sih karena perbedaan status sosial, ekonomidan adatistiadat. Kekesalannya bertambah-tambah karena dilihatnya sang isterimalasmeningkatkan kemampuan intelek- tual, manajemen rumah tangga, sertakiat-kiatmendidik anak. Sebaliknya, sang isteri menuduh suaminya sebagai "anakmama" yangkurang mandiri dan tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dananak-anaknya. Belum lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasanganmuda yangmasih tinggal menumpang di rumah orang tua. Atau di dalam rumah merekaikuttinggal kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensialmengundang konflik bila tidak bijak-bijak mengaturnya.Kadang-kadang semangat seorang Muslimah untuk da\'wah keluar rumahterlaluberlebihan. Tidak "tawazun". Hal ini dapat menyebabkan seorang suamimengeluhkarena terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg- abregdanmengurus anak-anak. Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu banyakmenceritakan kekurangan suaminya, kekecewaan-kekecewaannya padasuaminya.Padahal ia sendiri kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa melihatkebaikan dankelebihan suaminya.Ada suami yang begitu "kikir" dalam memuji, kurang "sense of humor" dan"sedikit" berkata lembut pada isteri. Kalau ada kebaikan isteri yangdilihatnya,disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat kekurangan segeradiutarakannya.Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang memiliki problem "hubunganintimsuami-isteri". Mereka merasa tabu untuk membica- rakannya secara terusterang diantara mereka berdua. Padahal akibatnya menghilangkan kesakinahan rumahtangga.Kalau mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yang",1]);//-->Fulanahsebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit bahkan cenderung kikir,padahalkebutuhan rumah tangga dan anak-anak terus meningkat.Seorang sahabat Fulan juga kesal karena isterinya sulit menerimakeadaankeluargan. Sebab musababnya sih karena perbedaan status sosial, ekonomidan adatistiadat. Kekesalannya bertambah-tambah karena dilihatnya sang isterimalasmeningkatkan kemampuan intelek- tual, manajemen rumah tangga, sertakiat-kiatmendidik anak. Sebaliknya, sang isteri menuduh suaminya sebagai "anakmama" yangkurang mandiri dan tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dananak-anaknya. Belum lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasanganmuda yangmasih tinggal menumpang di rumah orang tua. Atau di dalam rumah merekaikuttinggal kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensialmengundang konflik bila tidak bijak-bijak mengaturnya.Kadang-kadang semangat seorang Muslimah untuk da'wah keluar rumahterlaluberlebihan. Tidak "tawazun". Hal ini dapat menyebabkan seorang suamimengeluhkarena terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg- abregdanmengurus anak-anak. Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu banyakmenceritakan kekurangan suaminya, kekecewaan-kekecewaannya padasuaminya.Padahal ia sendiri kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa melihatkebaikan dankelebihan suaminya.Ada suami yang begitu "kikir" dalam memuji, kurang "sense of humor" dan"sedikit" berkata lembut pada isteri. Kalau ada kebaikan isteri yangdilihatnya,disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat kekurangan segeradiutarakannya.Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang memiliki problem "hubunganintimsuami-isteri". Mereka merasa tabu untuk membica- rakannya secara terusterang diantara mereka berdua. Padahal akibatnya menghilangkan kesakinahan rumahtangga.Kalau mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yangantara pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebihpanjang lagi.Memang, persoalan-persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tanggatidak pastiakan berjalan mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah dancita-citamenegakkan Islam. Mereka yakni Fulan dan Fulanah cs tetapmanusia-manusia biasayang bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas darikekurangan-kekurangan. Danmereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman.Pasangan yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebihpunyakemampuan menepis badai dengan menurunkan standar harapan. Tidak perluberharapmuluk-muluk seperti ketika masih gadis atau jejaka. Karena, ternyatakita punbelum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim dan Muslimahhendaknya kitasadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri atau suami yang sempurnasepertibidadari atau malaikat. Maka kita pun tentunya tidak perlu menuntutkesempurnaandari suami atau isteri kita."Just the way you are" lah. Kita terima pasangan hidup kita seadanya,lengkapdengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar\'i) dankelebihannya. Kitamemang berasal dari latar belakang keluarga, kebia- saan, dan karakteryangberbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita- cita kita sama. Padasaat ghirahtinggi, iman dalam kondisi puncak, "Prima", semua perbedaan seolahsirna. Namunpada saat "ghirah" turun, iman menurun, semua perbedaan itu menyembulkepermukaan, mengganjal, mengganggu, dan menyebalkan. Akibatnya tidakterwujudsakinah.Kiat utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelahberdoamemohon pertolongan Allah SWT dan mau ber "muhasabah" (introspeksi),adalahmengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara suami-isteri.Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern dulu diantarasuami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati. "Uneg- uneg" yang",1]);//-->terjadi diantara pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebihpanjang lagi.Memang, persoalan-persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tanggatidak pastiakan berjalan mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah dancita-citamenegakkan Islam. Mereka yakni Fulan dan Fulanah cs tetapmanusia-manusia biasayang bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas darikekurangan-kekurangan. Danmereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman.Pasangan yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebihpunyakemampuan menepis badai dengan menurunkan standar harapan. Tidak perluberharapmuluk-muluk seperti ketika masih gadis atau jejaka. Karena, ternyatakita punbelum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim dan Muslimahhendaknya kitasadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri atau suami yang sempurnasepertibidadari atau malaikat. Maka kita pun tentunya tidak perlu menuntutkesempurnaandari suami atau isteri kita."Just the way you are" lah. Kita terima pasangan hidup kita seadanya,lengkapdengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar'i) dankelebihannya. Kitamemang berasal dari latar belakang keluarga, kebia- saan, dan karakteryangberbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita- cita kita sama. Padasaat ghirahtinggi, iman dalam kondisi puncak, "Prima", semua perbedaan seolahsirna. Namunpada saat "ghirah" turun, iman menurun, semua perbedaan itu menyembulkepermukaan, mengganjal, mengganggu, dan menyebalkan. Akibatnya tidakterwujudsakinah.Kiat utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelahberdoamemohon pertolongan Allah SWT dan mau ber "muhasabah" (introspeksi),adalahmengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara suami-isteri.Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern dulu diantarasuami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati. "Uneg- uneg" yangfair dan bijak diungkapkan.Selanjutnya, yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakuikesalahan dan meminta maaf. Yang dimintai maaf juga segera maumemaafkan dantidak mendendam. Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidak mengaduke orangtua, atau orang lain. Jadi tidak membongkar atau membe- berkan aib dankekurangan suami atau isteri. Hal lain yang perlu diper- hatikan adalahtidakmembandingk-bandingkan suami atau isteri dengan orang lain, karena ituakanmenyakitkan pasangan hidup kita. Setelah itu, masing-masing juga perlu\'waspada\'agar tidak terbiasa kikir pujian dan royal celaan.Jika terpaksa, kadnag-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga(tetapi pastikan yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untukmembantu melihat permasalahan secara lebih jernih. Kadang-kadang"kacamata" yang kita pakai sudah begitu buram sehingga semua kebaikanpasangan hidup kita menjadi tidak terlihat,bahkan yang terlihatkeburukannya saja. Orang lain yang terpercaya InsyaAllah akan bisamembantu menggosok \'kacamata\' yang buram itu. Alhamdulillahada yang tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflikterselesaikan mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja !Layaknya !Dengan berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada AllahSWT, InsyaAllah kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaanrumah tangga kita, serta kembali bertekad menjadikan jihad dan syahidsebagai tujuan kita berumah tangga. Amiin yaa Robbal\'aalamiin.Wallahu a\'lam bishowab.* tulisan dari Ummu Samy Romadhon di majalah Ummi No. 6/V, 1414 H/1993*",1]);//-->ada secarafair dan bijak diungkapkan.Selanjutnya, yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakuikesalahan dan meminta maaf. Yang dimintai maaf juga segera maumemaafkan dantidak mendendam. Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidak mengaduke orangtua, atau orang lain. Jadi tidak membongkar atau membe- berkan aib dankekurangan suami atau isteri. Hal lain yang perlu diper- hatikan adalahtidakmembandingk-bandingkan suami atau isteri dengan orang lain, karena ituakanmenyakitkan pasangan hidup kita. Setelah itu, masing-masing juga perlu'waspada'agar tidak terbiasa kikir pujian dan royal celaan.Jika terpaksa, kadnag-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga(tetapi pastikan yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untukmembantu melihat permasalahan secara lebih jernih. Kadang-kadang"kacamata" yang kita pakai sudah begitu buram sehingga semua kebaikanpasangan hidup kita menjadi tidak terlihat,bahkan yang terlihatkeburukannya saja. Orang lain yang terpercaya InsyaAllah akan bisamembantu menggosok 'kacamata' yang buram itu. Alhamdulillahada yang tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflikterselesaikan mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja !Layaknya !Dengan berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada AllahSWT, InsyaAllah kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaanrumah tangga kita, serta kembali bertekad menjadikan jihad dan syahidsebagai tujuan kita berumah tangga. Amiin yaa Robbal'aalamiin.Wallahu a'lam bishowab. * tulisan dari Ummu Samy Romadhon di majalah Ummi No. 6/V, 1414 H/1993* |
posted by norabima @ 7:56 PM   |
|
|
| Tuesday, May 10, 2005 |
|
Tarian Langit Dalam Jiwa :Kelahiran Kita tarian langit malam ini mengharu birukan jiwa gemeresik daun dan lenturnya dahan menjadi orkestra disana perempuan senja bertabir kerisauan mendekap rindu dan memahat kata-kata pada sunyi lalu resah menghampiriku perlahan dan tanpa jejak selimuti hati yang bersketsakan rindu menyesakmataku menatap kebisuan tanpa pola dan waktu melekatkan sisanya pada hampa hingga sebuah dendang menantang karangdan kelahiran menyongsong datang :dua jiwa. |
posted by norabima @ 5:52 AM   |
|
|
| Sunday, May 08, 2005 |
|
Happy Day...! Aku melirik jam dinding di tembok kamarku. Hari sudah menunjukkan jam dua tengah malam. Aku tidak menduga kau sempat melakukan itu untukku di tengah kesibukanmu sebagai seorang penulis. Hpku berdering sesaat setelah akhirnya hening di tengah kesunyian malam. "Ada apa?" Aku balik menelponmu. "Maaf. Pulsaku tinggal dikit, maklum yang namanya juga masih kuli tinta." ucapmu tertawa. "Apa ada sesuatu darimu yang bisa kujadikan bahan tulisan, Ra?" "Oh, ada. Kau mau menuliskannya? Tapi janji, sebelum dimuat di majalah,terlebih dahulu kau harus membiarkan aku yang mengeditnya. Aku ingin alurnya sesuai keinginanku. Settingnya di Pacet Mojokerto. Aku pernah ke sana. Hawa desanya dingin, tenang dan jauh dari suasana hiruk pikuk. enam tahn lalu...aku pernah esa itu di kelilingi oleh pegunungan yang indah. Di atas pegunungan berdiri beberapa villa yang mewah. Nah, di sekitar villa itu terletak sebuah panti asuhan. Di panti itulah aku pernah mengajar anak-anak. Dan..., di antara anak-anak yang semuanya yatim itu..ada seorang gadis cerdas, pintar dan cekatan. Anak itu dibiarkan tinggal di panti, padahal orang tuanya masih ada..." "Stop! Jangan diteruskan, Ra...! Biarkan aku meneruskan dengan imajinasiku. Thank's berat ya? Uda nolongin aku..." "Oke." Kataku mengakhiri percakapan. Eiiitt!Tunguuuu...! Setelah ini kau jangan jadi kuli tinta, ya. Jadilah pejuang! Kataku diiringi tawamu. Sepanjang persahabatan kita...baru kali ini aku merasakan kau bisa tertawa lepas. Tertawa seperti ingin merengkuh pilihan yang lebih besar setelah akhirnya kau tanpak bosan sekedar menjadi kuli tinta...! Selamat Berjuang Temanku. Kau bukan kuli tinta tapi pejuang...! |
posted by norabima @ 11:58 PM   |
|
|
|

- Name: norabima
- Location: Jakarta Selatan, DKI, Indonesia
Norabima lahir di sebuah desa terpencil yang terletak di daerah Bima Nusa Tenggara Barat. Menyukai dunia tulis menulis sejak duduk di bangku SMP dan ratusan puisinya telah dipublikasikan ke beberapa media seperti SABILI. Beberapa buku yang telah ditulisnya adalah, Mengahadang Arus Zending, Biar Kata Menjelma Cahaya (antologi puisi FLP NTB), Buruan Jadi Sukses Yuk!, Konsep Komunikasi Dalam Islam, PIZZA from a friend, Biarkan Jiwamu Menari Menuju Surga, The man of heaven, Meniti Jarak Cinta, Dzikir-dzikir sunyi (kumpulan cerpen FLP NTB), Bima...cinta ini untukmu (antologi puisi FLP-NTB), Mega itu Surga, dll. Norabima sudah menulis lebih dari 20 karya tulis dan saat ini merintis usaha penerbitan ELJIHAD PRESS sebagai wujud kecintaannya pada dunia tulis menulis dan Norabima terobsesi untuk mewarnai dunia pembukuan di Indonesia dengan karya-karya bermutu yang akan diluncurkan oleh El Jihad Press.
Penulis yang punya moto hidup, Saya Pejuang Pedang Saya Pena, bercita-cita untuk menjadi salah satu penulis yang disegani oleh dunia internasional karena ketajaman penanya(selamat berjuang Norabima)berjuang untuk mewujudkan legenda pribadi yang akan dikenang sejarah.
View my complete profile
|
| Udah Lewat |
|
| Arsip |
|
|
| Thanks |
|
|